Kongres LokaNusa “Lokal Berbicara, Global Mendengar” Diselenggarakan di Mojokerto

Kongres LokaNusa “Lokal Berbicara, Global Mendengar” Diselenggarakan di Mojokerto

Telah terselenggara kongres LokaNusa (Forum Pelokalan Indonesia) pada 02-03 Oktober 2025 di Mojokerto. Dengan dihadiri lebih dari 30 NGO/CSO lokal di Indonesia baik secara daring maupun luring, kongres yang bertemakan “Lokal berbicara, Global Mendengar” sukses diselenggarakan dengan hasil yang disebut “Deklarasi Kemanusiaan LokaNusa”.

LokaNusa yang telah hadir sejak 2023 sebagai forum wadah ide gagasan pelokalan di Indonesia, mencoba meramu dan mengokohkan kembali kehadirannya lewat kongres ini. Bertepatan dengan bulan pengurangan resiko bencana (PRB) nasional pada tahun 2025, sebuah momentum besar yang menyimbolkan nilai kemanusiaan.

Di Hari pertama (02/10) rangkaian kongres LokaNusa, diawali dengan musyawarah nasional yang menetapkan draft statuta dan menentukan dewan pengarah, sekretariat nasional serta simpul daerah.

Adapun dewan pengarah yang ditetapkan adalah Ariesto V. A. Siahaya (Yayasan Pelangi Maluku), Dini Asmira (Marawa Development Indonesia), Muhammad Fauzy Fesanlauw (FPRB Tulehu), Siti Aisyah Ekawati (Yayasan Bina Cempe), Stevandi (Yayasan Panorama Alam Lestari), Trinirmalaningrum (SKALA), Tri Sulistyowati (Yayasan Sheep Indonesia). Sedangkan untuk sekretariat nama-nama terpilih adalah Indira Hapsari (YAPPIKA) sebagai koordinator nasional, M. Azri Imaduddin (LPSDM) sebagai sekretaris serta Martin Dennis S. (Yayasan Sheep Indonesia) sebagai bendahara.

Sebagai perwakilan dari simpul daerah yang terbagi dalam tiga zona waktu Indonesia, Koordinator Simpul Daerah Barat: Eli Sunarso (Yakkum Emergency Unit), Koordinator Simpul Daerah Tengah: Fadhil Abdullah (Yayasan Panorama Alam Lestari) dan Koordinator Simpul Daerah Timur: Johan Sqyvo Ferdinandus (Yayasan Pelangi Maluku)

Hari kedua (03/10) kongres LokaNusa diisi dengan talkshow yang diisi oleh Rahmawati Husein dan Pangarso Suryotomo, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan deklarasi.

Rahmawati Husein, selaku tokoh kemanusiaan Indonesia banyak menjelaskan kondisi pelokalan di Indonesia dalam konteks global, “dimana memang saat ini dunia internasional yang melalui Brand Bargain mendorong partisipasi kerjasama yang setara, fleksibilitas dalam funding, memprioritaskan pada partisipasi bersama” katanya dalam talkshow Kongres LokaNusa (03/10).

Sehingga agenda pelokalan ini sangat penting, sebab selain menjaga akuntabilitas dalam segi pendanaan, membangun kolaborasi, LokaNusa juga ingin lebih banyak mengumpulkan dan mendokumentasikan praktik-praktik lokal di Indonesia melalui forum ini, lebih banyak organisasi yang terlibat maka praktik pelokalan di Indonesia akan lebih terdengar oleh global.

Selain itu Indira Hapsari selaku koordinator nasional yang terpilih menjelaskan bahwa “LokaNusa juga merupakan humanitarian riset, bagi organisasi didalamnya karena organisasi-organisasi sipil ini bukanlah ruang hampa tapi didalamnya berdinamika, selalu ada tantangan di dalamnya, sehingga perlu antisipasi agar praktik kemanusiaan ini terus berlanjut”

LokaNusa sebagai forum pelokalan Indonesia, untuk penguatan daya lokal untuk respon yang lebih bermartabat, mendeklarasikan 7 prinsip berikut sebagai fondasi bagi aksi kemanusiaan yang lebih efektif, akuntabel, dan bermartabat:

  1. Pengakuan dan Penghormatan Daya Lokal ​Kepemimpinan Komunitas
  2. Kemitraan yang Setara
  3. Akuntabilitas Mutlak
  4. Transfer Sumber Daya Langsung
  5. Pembangunan Kapasitas Dua Arah
  6. Advokasi Kontekstual
  7. Mendukung Kemandiria (Kori Saefatun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.