Dari “Pulih” ke “Sembuh”: Jalan Panjang Penyintas Banjir dan Longsor di Langkat

Dari “Pulih” ke “Sembuh”: Jalan Panjang Penyintas Banjir dan Longsor di Langkat

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Bencana berskala besar itu tidak hanya merusak ribuan infrastruktur, tetapi juga merenggut banyak nyawa dan memaksa puluhan ribu orang mengungsi. Hingga berbulan-bulan setelah kejadian, kehidupan memang mulai berjalan kembali. Namun bagi banyak penyintas, proses untuk benar-benar bangkit masih jauh dari selesai.

Memasuki bulan ketiga pascabencana, kondisi masyarakat sering disebut sudah “pulih”. Bantuan kebutuhan dasar sudah tersedia, dan anak-anak sudah kembali ke sekolah. Aktivitas warga perlahan mulai terlihat kembali. Sekilas, kehidupan tampak normal.

Namun di balik itu semua, masyarakat sebenarnya belum sepenuhnya “sembuh”.

Data pada awal Desember 2025 menunjukkan setidaknya 407 kepala keluarga atau sekitar 1.171 jiwa masih terdampak langsung. Banyak keluarga masih tinggal di hunian sementara karena rumah permanen belum tersedia. Sebagian lainnya kehilangan sumber penghasilan, sehingga kondisi ekonomi keluarga belum kembali stabil.

Tidak sedikit penyintas yang masih menyimpan trauma. Kenangan tentang banjir dan longsor yang datang tiba-tiba masih membekas kuat, terutama bagi mereka yang kehilangan anggota keluarga atau harta benda. Rasa cemas akan kemungkinan bencana susulan juga masih menghantui, apalagi ketika hujan turun deras.

Di sinilah perbedaan antara “pulih” dan “sembuh” menjadi nyata.

Pulih berarti kehidupan mulai berjalan kembali. Tetapi sembuh berarti masyarakat sudah benar-benar aman, stabil, dan siap menghadapi masa depan. Saat ini, banyak penyintas masih berada di antara dua kondisi tersebut—sudah bangkit, tetapi belum sepenuhnya kuat.

Pemulihan pascabencana sering kali identik dengan pembangunan kembali rumah yang rusak. Padahal, kebutuhan masyarakat jauh lebih luas dari itu. Mereka membutuhkan tempat tinggal yang aman, penghasilan yang kembali stabil, serta lingkungan yang lebih siap menghadapi bencana di masa depan.

Upaya pemulihan berbasis komunitas menjadi salah satu langkah penting untuk mempercepat proses ini. Pembangunan rumah permanen tahan bencana menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat tidak lagi hidup dalam ketidakpastian. Di sisi lain, program pemulihan ekonomi seperti dukungan usaha kecil dan mata pencaharian juga diperlukan agar keluarga bisa kembali mandiri.

Selain itu, penguatan kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi kunci. Sistem peringatan dini berbasis komunitas, pelatihan kebencanaan, hingga integrasi pengurangan risiko bencana di tingkat desa dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi kemungkinan bencana di masa depan.

Bagi para penyintas, pemulihan bukan sekadar tentang memperbaiki bangunan yang rusak. Lebih dari itu, pemulihan adalah tentang mengembalikan rasa aman dan harapan yang sempat hilang.

Perjalanan dari pulih menuju sembuh memang tidak singkat. Namun dengan dukungan yang tepat dan keterlibatan aktif masyarakat, proses itu bisa dipercepat. Harapannya, para penyintas tidak hanya kembali menjalani kehidupan seperti semula, tetapi juga menjadi lebih tangguh menghadapi bencana di masa depan.

Karena pada akhirnya, pemulihan sejati bukan hanya tentang membangun kembali rumah melainkan membangun kembali kehidupan. (DM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.