Menguatkan dari Akar: Peran Anggota Forum LokaNusa JEMARI Sakato dalam Mendorong Kebijakan Partisipatif dan Ketangguhan Bencana
Di tengah meningkatnya frekuensi bencana dan kompleksitas tantangan pembangunan di Indonesia, kebutuhan akan pendekatan yang inklusif dan berbasis komunitas semakin mendesak. Di Sumatera Barat, salah satu organisasi yang konsisten mendorong pendekatan tersebut adalah JEMARI Sakato. JEMARI Sakato merupakan anggota resmi dari Forum Lokanusa yang memiliki komitmen melakukan pendekatan berbasis komunitas lokal.
Didirikan pada 14 Juli 2004, JEMARI Sakato hadir dengan mandat utama: memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan memastikan kebijakan publik lebih responsif terhadap kebutuhan warga. Dalam konteks Indonesia yang masih menghadapi kesenjangan partisipasi, peran ini menjadi semakin relevan.
Data nasional menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia, dengan ribuan kejadian bencana terjadi setiap tahunnya. Di tingkat lokal, Sumatera Barat termasuk wilayah dengan kerentanan tinggi terhadap gempa bumi, banjir, dan tanah longsor. Kondisi ini menuntut adanya pendekatan pengurangan risiko bencana yang tidak hanya berbasis teknis, tetapi juga sosial melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.
Di sinilah JEMARI Sakato mengambil peran strategis. Tidak hanya bergerak di tingkat komunitas, lembaga ini juga aktif menjembatani hubungan antara masyarakat dan pemerintah dalam proses perencanaan dan penganggaran pembangunan.
“Partisipasi masyarakat bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi kunci dalam menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran dan berkelanjutan,” demikian salah satu prinsip yang dipegang dalam kerja-kerja JEMARI Sakato.
Sejak awal berdiri, organisasi ini telah mengalami transformasi signifikan. Dari fokus awal pada riset dan monitoring pelayanan publik, kini JEMARI Sakato mengembangkan kerja-kerjanya pada tiga ranah utama: penguatan tata kelola pemerintahan, advokasi kebijakan dan anggaran, serta pengurangan risiko bencana berbasis komunitas.
Dalam praktiknya, pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada pendampingan teknis. JEMARI Sakato mendorong lahirnya mekanisme partisipatif, seperti musyawarah komunitas, pemetaan risiko berbasis warga, hingga keterlibatan kelompok rentan termasuk perempuan dan masyarakat miskin dalam pengambilan keputusan.
Upaya ini sejalan dengan agenda nasional, termasuk implementasi Undang-Undang Desa dan kebijakan pengurangan risiko bencana yang menekankan pentingnya partisipasi masyarakat. Namun, di lapangan, implementasi kebijakan tersebut kerap menghadapi tantangan, mulai dari kapasitas lokal yang terbatas hingga minimnya ruang partisipasi yang efektif.
Melalui berbagai programnya, JEMARI Sakato mencoba menjawab kesenjangan tersebut. Mereka tidak hanya memperkuat kapasitas masyarakat, tetapi juga mendorong pemerintah daerah untuk lebih terbuka terhadap aspirasi warga. Dalam beberapa kasus, intervensi ini berkontribusi pada peningkatan kualitas perencanaan desa dan integrasi isu kebencanaan dalam dokumen pembangunan lokal.
Selain itu, JEMARI Sakato juga dikenal mengintegrasikan pendekatan berbasis data dalam kerjanya. Pemanfaatan teknologi seperti Geographic Information System (GIS) dan metode riset partisipatif menjadi bagian penting dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti.
Selama lebih dari dua dekade, lembaga ini telah menjangkau berbagai komunitas di Sumatera Barat dengan beragam intervensi, mulai dari penguatan kapasitas masyarakat, advokasi kebijakan publik, hingga program adaptasi perubahan iklim. Meski tidak selalu terlihat dalam skala besar, dampak yang dihasilkan bersifat mendasar mengubah cara masyarakat terlibat dalam pembangunan.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana, pendekatan seperti yang dilakukan JEMARI Sakato menjadi semakin penting. Ketangguhan tidak lagi cukup dibangun melalui infrastruktur semata, tetapi juga melalui penguatan kapasitas sosial dan kelembagaan di tingkat lokal.
Ke depan, tantangan yang dihadapi tentu tidak ringan. Namun, pengalaman panjang JEMARI Sakato menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari hal sederhana: membuka ruang, mendengarkan suara masyarakat, dan memastikan mereka menjadi bagian dari solusi.
Dalam konteks pembangunan Indonesia yang semakin kompleks, kerja-kerja seperti ini menjadi pengingat bahwa kebijakan yang baik selalu berakar dari partisipasi yang bermakna. (DM)


Tinggalkan Balasan